Sunday, July 11, 2004

Secangkir Pagi



A cup of coffee, hot chocolate, atau green tea is not enough for bloody monday morning.

Sebelumnya, salah satu pilihan itu cukup untuk sekedar men-cheer up-kan awalan senin pagi, yang berarti something good untuk a whole week kali ini. Itu sebelum R*** mulai mengirim pesan-pesan messenger yang bikin pusing, karena bermuatan masa lalu. Hal-hal yang sempat masuk dalam list yang taboo untuk dibicarakan kembali, yang kalau sampai topik itu muncul, akan - pelan atau cepat - menarik dalam pusaran hitam yang tidak ada ujungnya. Seperti dulu.

Pun, sempet juga satu ujung jari mencicip pusaran itu. Masih magnetis seperti dulu? The answer is absolutely yes, tapi akal sehat setengah berhasil membuat terpental menjauh. Setengah berhasil karena, setelah dia juga terpental keluar dari pusaran hitam itu, dan kepalanya membentur besi penyangga kabel listrik, we just sit there stared each other dan kita mikir apa kita harus kembali mencemplungkan salah satu anggota badan kita - sedikit saja, even itu seujung rambut atau kuku - agar pusaran menyenangkan itu mempermainkan kita lagi.

Seperti biasa, pura-pura sepertinya sama sekali tidak tertarik lagi pada pusaran itu, lebih memilih duduk di pinggir, melirik tanpa minat dan segera berlalu. Padahal dalam hati setengah mati ingin free falling bersama dalam pusaran itu. Hancur, lebur, jadi partikel super kecil dan tidak berbentuk lagi. Tapi selalu, always, forever, dia lebih percaya pada kepura-puraan dari pada yang sebenernya, di balik blus, di balik kulit, di balik rusuk, di dalam inti hati. Jadi dia menunduk, mungkin setengah marah, dan melambai dengan tegas, tidak mau juga berputar-putar sendiri di dalamnya. Bye love.

Setelah itu tidak ada pesan melalui messenger, sms, sambungan langsung, atau lunch.

Ternyata, ada sesuatu yang hilang, yang tidak lagi bisa tergantikan oleh a cup of coffee, hot chocolate, or green tea. Tapi sure, i will be okay, seperti biasa.

Kami akan seterusnya datang saat yang satu ingin pergi dan pergi saat yang satu ingin datang kembali. Bergantian.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home