I have no idea!
Sehari, berapa kali sih seharusnya kita makan? Idealnya tiga kali, tapi jangan terlalu teoritis harus makan tiga kali sehari. Asal laper, makan aja, nggak usah dipikirin berapa kalinya. Jadi, kalo emang dalam sehari merasa laper 5 - 6 kali, yah sok aja makan segitu kali. Bebas, badan-badan sendiri ini. Just, listen to your body. Nggak usah maksa.
Masalahnya, kalo jadi anak kos, yang di kos-kosannya nggak ada fasilitas lemari makan yang selalu terisi penuh kayak di rumah, urusan makan ini jelas bikin repot. Pertama, selain kita harus menempuh perjalanan yang relatif lebih jauh daripada sekedar ke lemari makan di dapur, kita juga musti memilih kostum yang pantas sebelum berangkat nyari tempat makan, nggak lupa mengoleskan pelembab, bedak dan lip gloss. Kedua, kita musti menentukan pilihan menu apa yang kita inginkan, yang memenuhi kebutuhan gizi dan rasa. Ya nggak sih?
Menurut hasil sharing, ibu rumah tangga aja nggak serepot itu menentukan menu, sebab mereka kan menentukan menu harian, bukan per kali makan. Jadi, kesulitan anak kos itu 5-6 kali-nya ibu rumah tangga. Nggak mungkin kan kalo dari sarapan kita makan warteg (perkedel, sop, ayam goreng), siang, sore, malam, dan tengah malam makan menu yang sama. Biasanya sih pagi warteg, siang masakan manado, sore siomay, malam mie japos, dan tengah malam cap cay kampung. Tapi itu juga nggak bisa setiap hari makan itu-itu aja, kan? Harus variatif dan nggak jarang bikin desperate karena kehabisan ide.
Kayak kehabisan ide akhir-akhir ini. Belum lagi nyari ide kerjaan kantor, ide bikin tulisan di kos, ide untuk hal-hal lain yang kadang penting-penting nggak penting, ide menu per kali makan ini bikin pusing juga. Biasanya, kalo diajakin makan siang di kantor pasti temen-temen pasrah nanya, "Makan dimana?" Pasti langsung bisa jawab dengan lugas, "Theresia yuk!" atau, "Basement BII, Sarinah, Sate madura, Permata, kompor, Lantai 14, Kalasan, Tenda biru, Soto gerobak, warteg galak, atau gudeg moko." Tapi setelah krisis ide, cuman bisa jawab, "Nggak tauk, terserah aja!" Lalu setelah itu, memutuskan nyari-nyari menu ke arah permata, balik lagi ke arah lombok, ke theresia, jatuh-jatuhnya warteg galak di sebelah gedung atau padang palsu. Hampir tiap hari gitu, lama-lama bosen makanan warteg dan padang palsu, tapi still..nggak punya ide lagi untuk nyari menu lain.
Itulah yang bikin berat badan makin hari makin menyusut. Dari 49 kilo ke 44 something. Sejak itu, sering dapet telpon dari temen-temen, pada nanya, dietnya gimana? mutih? vegetarian? rendah kalori? sedot lemak? weight watcher? OOOOHHHH...PLEEASEEE!!! I m not mama-mama Bazaar, gitu loh! Meski bilang ke banyak orang kalo punya niat diet, tapi nggak pernah bener-bener berniat. Sayang juga kalo inget usaha pas garing dulu, untuk naekin berat badan dari 39 ke 49. Ini semua cuman karena lagi krisis menu! itu aja kok!
Masalahnya, kalo jadi anak kos, yang di kos-kosannya nggak ada fasilitas lemari makan yang selalu terisi penuh kayak di rumah, urusan makan ini jelas bikin repot. Pertama, selain kita harus menempuh perjalanan yang relatif lebih jauh daripada sekedar ke lemari makan di dapur, kita juga musti memilih kostum yang pantas sebelum berangkat nyari tempat makan, nggak lupa mengoleskan pelembab, bedak dan lip gloss. Kedua, kita musti menentukan pilihan menu apa yang kita inginkan, yang memenuhi kebutuhan gizi dan rasa. Ya nggak sih?
Menurut hasil sharing, ibu rumah tangga aja nggak serepot itu menentukan menu, sebab mereka kan menentukan menu harian, bukan per kali makan. Jadi, kesulitan anak kos itu 5-6 kali-nya ibu rumah tangga. Nggak mungkin kan kalo dari sarapan kita makan warteg (perkedel, sop, ayam goreng), siang, sore, malam, dan tengah malam makan menu yang sama. Biasanya sih pagi warteg, siang masakan manado, sore siomay, malam mie japos, dan tengah malam cap cay kampung. Tapi itu juga nggak bisa setiap hari makan itu-itu aja, kan? Harus variatif dan nggak jarang bikin desperate karena kehabisan ide.
Kayak kehabisan ide akhir-akhir ini. Belum lagi nyari ide kerjaan kantor, ide bikin tulisan di kos, ide untuk hal-hal lain yang kadang penting-penting nggak penting, ide menu per kali makan ini bikin pusing juga. Biasanya, kalo diajakin makan siang di kantor pasti temen-temen pasrah nanya, "Makan dimana?" Pasti langsung bisa jawab dengan lugas, "Theresia yuk!" atau, "Basement BII, Sarinah, Sate madura, Permata, kompor, Lantai 14, Kalasan, Tenda biru, Soto gerobak, warteg galak, atau gudeg moko." Tapi setelah krisis ide, cuman bisa jawab, "Nggak tauk, terserah aja!" Lalu setelah itu, memutuskan nyari-nyari menu ke arah permata, balik lagi ke arah lombok, ke theresia, jatuh-jatuhnya warteg galak di sebelah gedung atau padang palsu. Hampir tiap hari gitu, lama-lama bosen makanan warteg dan padang palsu, tapi still..nggak punya ide lagi untuk nyari menu lain.
Itulah yang bikin berat badan makin hari makin menyusut. Dari 49 kilo ke 44 something. Sejak itu, sering dapet telpon dari temen-temen, pada nanya, dietnya gimana? mutih? vegetarian? rendah kalori? sedot lemak? weight watcher? OOOOHHHH...PLEEASEEE!!! I m not mama-mama Bazaar, gitu loh! Meski bilang ke banyak orang kalo punya niat diet, tapi nggak pernah bener-bener berniat. Sayang juga kalo inget usaha pas garing dulu, untuk naekin berat badan dari 39 ke 49. Ini semua cuman karena lagi krisis menu! itu aja kok!

0 Comments:
Post a Comment
<< Home