Thursday, September 16, 2004

Ouch!

Kadang, siang panas cerah bisa tiba-tiba berubah mendung berair.

Hari ini. Kesempurnaannya hilang cuman karena satu sambungan telpon. Padahal sebelumnya Ilham sms, short but meaningful, mengingat dia bukan cowok sms.

"Nin, ini ci elin."
"Eh, apa ci, tumben nelpon."
"Bla-bla-bla"
"Cici mo nanya kamu gak usah nganggep macem-macem, cici turut campur atau apa ya."
"Iya ci, mo nanya apa?"
"Katae Bin kamu udah nggak pernah kontek dia lagi ya?"
"Lho, Bin juga nggak pernah kontek saya lagi kok."
"Katae Bin terakhir kontek kamunya marah-marah gitu?"
"Engga ah ci. Saya nggak pernah marah sama Bin."
"De'e bilange gitu. Katanya kamu nglarang Bin telpon-telpon lagi. Suruh nunggu sampek kamu yang telpon."
"Mmmh..."
"Yaa...cici bukannya apa, ya. Tapi kalo mau serius sama Bin, ya kalo ngambek itu nggak usah nemen-nemen gitu. Marahan ya marahan biasa, tapi nggak usah sampe nggak kontak gitu."
"Iya ci."
"Lha kamu sendiri sakjane serius enggak sama Bin?"
"Yaaa...serius, ci. Tapi susah."
"Bin itu udah dimarah-marahin mama lo waktu sebelum sama kamu dulu. Sekarang mama sudah oke, kamunya gitu. Susahnya itu kenapa se nin?"
"Ya enggak, cici kan tau sendiri saya nggak mau pulang ke surabaya. Bin juga nggak mau kerja di Jakarta. Ya sampek kapan pun nggak bisa, ci."
"Wes, itu nanti diomongin nanti kalo kamu pulang ke surabaya aja. Kalo nggak ada yang bisa ngalah ya susah. Wes ah, ini cici pake telpon kantor, nanti dimarahi bose."
"Ya ci, salame buat semua."
"Ya, mengko tak salamne."

0 Comments:

Post a Comment

<< Home